Tekad Prancis menyelenggarakan Olimpiade bebas korupsi

Tekad Prancis gelar Olimpiade yang bersih dari korupsi

Meski demikian, tudingan korupsi masih terdengar keras di setiap Olimpiade, termasuk dugaan jual beli suara dalam penetapan Rio de Janeiro dan Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade 2016 dan 2020.

Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia, bahkan dianggap sebagai arena korupsi gila-gilaan yang diduga menggelapkan miliaran dolar AS dalam acara tersebut.

Korupsi di Olimpiade dinilai sudah sangat sistemik sehingga diduga juga terjadi pada Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar satu tahun kemudian karena pandemi COVID-19.

Yang menjadi pusat perhatian korupsi di Olimpiade Tokyo adalah seorang eksekutif Komite Penyelenggara Olimpiade, Haruyuki Takahashi.

Takahashi didakwa menerima suap sebesar 200 juta yen (Rp 20 miliar) dari lima perusahaan agar perusahaan tersebut terpilih menjadi sponsor dan agen pemasaran Olimpiade Tokyo.

Takahashi juga dituduh menggunakan pengaruh dan hubungannya dengan tokoh industri olahraga untuk menentukan sponsor Olimpiade dan kontrak pemasaran.

Takahashi membantah semua tudingan tersebut, dengan alasan mendapatkan atau memberikan sesuatu adalah hal yang lumrah, sebagai tanda terima kasih dan persahabatan.

Baca juga: Pejabat Eksekutif Olimpiade Tokyo Ditangkap dalam Kasus Dugaan Suap

Selanjutnya: Olimpiade yang demokratis

Hak Cipta © ANTARA 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *